Artikel

Postingan Rektor (Poster) 2 : MEMBANGUN DI ERA DISRUPSI, BERKARYA DI MASA PANDEMI



Ibrahim
Rektor Universitas Bangka Belitung

Pandemi Covid-19 telah lebih kurang 1 tahun mendera seluruh dunia dan negeri ini masuk dalam salah satu objek yang tersasar cukup massif. Meski pemerintah telah mengambil berbagai langkah, gejala bahwa Covid masih mengkhawatirkan menyisakan sekelumit persoalan, mulai dari normalisasi keadaan, sampai pada dampak luasnya yang begitu terstruktur dan sistematis.

Saya, yang dilantik di pada masa-masa awal Covid, secara online pula, merasakan betapa dinamisnya memimpin di tengah kondisi yang tidak terprediksi sama sekali. Tentu saya tidak sedang ingin meratapi keadaan ini, justru akan merunut betapa Covid tak membuat energi besar di awal-awal mengemban amanah menjadi tersekat. Mimpi untuk menjabarkan secara praktik gagasan yang dibangun pada masa pencalonan bagaimanapun adalah hasrat yang tidak boleh ditahan atau ditunda. Meski beberapa penyesuaian kecil terjadi, faktanya berbagai upaya telah dilakukan dan jadilah tahun 2020 menjadi masa menentukan kata kunci berikutnya.

Dunia pendidikan yang terdampak oleh keharusan menjaga jarak dan mematuhi protokol kesehatan memaksa kampus untuk mengalihkan proses pembelajaran. Justru ini menurut saya adalah titik balik  yang penting. Pembelajaran yang selama ini bercorak tatap muka secara offline, segera digantikan oleh perkuliahan secara online. Tentu, persoalan kesiapan dan adaptasi menjadi penting. Sebenarnya, jauh sebelum Covid, transformasi ke hybrid learning sudah lama digaungkan, katakanlah oleh para visioner dan pendobrak teknologi, agar menggeser orientasi pembelajaran kita menjadi lebih mudah dan murah. Covid menurut saya hanya mempercepatnya, bukan faktor penyebab. Di kita, serangkaian pengetatan regulasi telah dilakukan, mulai dari penerbitan kebijakan, sampai pada instrumen pengawasan atas efektivitasnya. Baik Dikbud maupun pimpinan kampus terus melakukan evaluasi, namun sepertinya hybrid learning mulai akan menjadi salah satu trend baru yang akan segera menggeser kebijakan akademik kita. Setahun berlalu, beberapa kita evaluasi, namun satu hal bahwa proses digitalisasi memang telah perlahan menjadi kebiasaan, meski saya amati beberapa orang masih ‘belum ikhlas’ dan nampaknya masih ada yang berharap untuk kembali normal lama seperti sebelum pandemi.

Bagi UBB, beberapa yang disadari adalah soal akses terhadap pembelajaran online yang perlu diperkuat. Mungkin lebih dari 10 kali diadakan rapat pimpinan bolak-balik membahas perbaikan dan mutu layanan di e-akademik UBB yang memang sudah ada sebelum Pandemi. Jangka pendek yang kita lakukan adalah pelatihan terhadap dosen pada aplikasi yang sudah ada, lalu peningkatan kapasitas server dan upgrade processor di e-akademik, dan terakhir ini kita putuskan untuk migrasi provider layanan pembelajaran online yang efektif akan mulai berlaku pada semester ganjil tahun akademik 2021/2022 ini, dengan pemberlakuan awal bagi mahasiswa baru 2021. Hal lain adalah evaluasi terhadap layanan internet yang selama ini disediakan oleh 2 provider, belakangan setelah evaluasi panjang kita memutuskan untuk memfokuskan pada 1 provider dengan format pelayanan yang lebih terjamin dan mudah untuk dipantau, tentu saja dengan penambahan access point di berbagai titik. Kedua hal ini adalah fondasi penting perubahan dalam rangka mendorong kesiapan digitalisasi. Sebagai jebolan Ilmu Politik, saya menikmati belajar istilah-istilah penting dalam teknis layanan teknologi informasi, dunia baru bagi keilmuan saya, namun menjadi prasyarat untuk berselancar di era disrupsi.

Hal lain saya kira yang penting untuk ditekankan adalah soal formulasi pembiayaan pendidikan. Di masa awal semester ganjil 2020/2021, kita masih sempat menganggarkan biaya subsidi kuota untuk membantu mahasiswa dan dosen, namun kemudian muncul ketentuan dari Kementerian larangan untuk menganggarkan di unit kerja sehubungan Kemendikbud sudah memfasilitasi. Semester ganjil telah berlalu dengan kuota yang disubsidi secara bertahap, sementara semester genap ini kita masih menunggu realisasi dari pusat, dugaan saya memang akan tiba terlambat karena UBB telah memulai perkuliahan lebih awal. Di sektor relaksasi UKT, kita bersyukur mendapatkan alokasi di luar beasiswa KIP-K, ada 420 alokasi bantuan UKT penuh secara selektif pada semester ganjil 2020/2021, dan 420 lagi pada semester genap ini. Namun di luar itu, kampus memandang penting untuk memberikan subsidi dalam bentuk pemotongan UKT untuk 490 orang pada semester lalu dan 601 orang pada semester genap ini. Di luar itu, ada skim penundaaan, pengangsuran, dan potongan persen otomatis untuk mahasiswa semester 9 yang memenuhi kriteria. Untuk pertama kalinya pula UBB mengeluarkan beasiswa sendiri untuk anak-anak potensial yang diberi nama Student Scholarship for Excellent and Potential Leader (Silent-Poll).

Yah, 2020 memang penuh dinamika! Covid mendera, namun membangun dan berkarya harus terus berjalan. Kebijakan Kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) telah kita respon dengan cepat. Kampus langsung mengadakan penyesuaian anggaran dan revisi kurikulum berbasis MBKM tuntas dilaksanakan pada akhir tahun 2020. Semua prodi kini kurikulum baru. 4 Prodi bahkan mendapatkan pendanaan kompetitif dari pusat, masing-masing lebih kurang 60 juta untuk penyesuaian kurikulumnya. Dan semester genap ini, kita sudah mulai dengan pertukaran antar jurusan dan pertukaran antar kampus. Meski belum dalam jumlah banyak, beberapa prodi sudah saling bertukar mahasiswa dalam pembelajaran, begitu juga dengan bergabungnya 85 mahasiswa dari 20 PTN yang kuliah di UBB pada semester ini. Anak kita sendiri sudah 60 orang yang bertukar ke kampus lain. Pada semester ganjil mendatang, kuliah luar kampus bagi mahasiswa semester 7 akan segera dimulai tahapannya dan dipastikan 8 format kuliah luar kampus akan ditawarkan secara ‘merdeka’. Tak hanya mekanisme, subsidi pembiayaannya pun sedang kita siapkan. Pembelajaran berbasis MBKM adalah sebuah inovasi pembelajaran yang akan mentautkan knowledge, keterampilan, dan soft-skill, karenanya ini bukan saja sebagai turunan kebijakan, tapi juga kebutuhan yang kontekstual.

Di sektor tata kelola, kami bersyukur karena pada tahun 2020 UBB menerima penghargaan sebagai Unit Akuntansi Pembantu Penggunaan Anggaran Wilayah (UAPPA-W-Kecil) Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Nilai SAKIP UBB sendiri pada tahun 2020 adalah BB dengan nilai 78,37 yang masuk dalam klaster pengertian ‘Baik Sekali’. Selain itu, pada masa pelaporan Harta Kekayaan Pejabat Negara ke KPK pada 2020 juga telah mencapai angka 100 % per Maret 2021. Musrenbang berjenjang untuk perencanaan serta evaluasi kinerja berbasis capaian target dan serapan anggaran pun mulai ditradisikan menyusul telah ditetapkannya 232 Indikator Kinerja Universitas dalam dokumen Renstra 2020-2024. Beberapa regulasi juga diharmonisasi dalam rangka mendorong birokrasi kampus yang efektif. Di sektor administrasi, UBB bertransformasi secara adaptif ke sistem presensi berbasis digital bernama Greatday. Dengan sentuhan tangan, kehadiran dapat dilakukan di ponsel masing-masing, termasuk ketika ada kebijakan WFH dari rumah. Sistem persuratan saat ini pun semua sudah bertransformasi ke format digital melalui aplikasi Sinde sehingga surat masuk dan surat keluar semua sudah diakses secara digital; paperless. Dalam waktu dekat, tanda tangan berbasis elektronik akan diperluas setelah sistem barcode saat ini mulai digunakan oleh pimpinan universitas. Tentu kita berharap e-office akan mendorong efisiensi dan efektivitas tata kelola. Saat ini juga sedang dikerjakan aplikasi Sistem Penelitian dan Pengabdian Masyarakat bernama SIPP UBB, Sistem Penyelesaian Tugas Akhir (SISTA) berbasis online, menyusul aplikasi e-koran untuk pengelolaan keuangan yang telah digunakan sebelumnya. Aplikasi penyusunan Laporan BKD Dosen dan PAK sendiri sedang menunggu optimalisasi dari aplikasi SISTER Kemendikbud. Tata kelola yang mudah dan efisien akan mendorong good university governance dan embrionya dimulai dari beberapa aspek, misalnya dukungan aplikasi dalam bekerja, sistem mutasi, promosi, dan demosi yang terpola, serta mekanisme reward and punishment yang proporsional.

Dari aspek penguatan SDM, selain telah melakukan reformulasi ulang peningkatan maslahat tambahan untuk jabatan tambahan, tunjangan kehadiran, pembimbing akademik, kelebihan jam mengajar, pembuatan soal/koreksi, dan asesor BKD, alih status pegawai juga mulai bergulir menemukan titik terang dan harapan kita secara bertahap akan terus kita perjuangkan. Tahun 2021 ini pun Insha Allah akan diluncurkan bantuan studi lanjut bagi dosen dan tenaga kependidikan. Di tengah keharusan untuk meningkatkan sumber daya manusia, tantangan kelangkaan beasiswa harus diatasi. Meski sifatnya baru bantuan, dukungan studi lanjut yang hilang sejak menjadi PTN lalu kini diharapkan menjadi pengungkit baru. Jika formulasi ini nanti efektif, maka skema bantuan potensial digeser menjadi skema beasiswa tetap per semester di tahun-tahun mendatang. Kami bersyukur, karena di tengah kelangkaan beasiswa dan bantuan UBB belum tiba, beberapa dosen kita telah mendapatkan beasiswa studi lanjut sepanjang 2020-2021 ini, diantaranya S3 ke Amerika Serikat, India, Austria, dan dalam negeri. Saat ini, UBB tercatat memiliki 17 % dari total 210 dosen bergelar doktor, 13 % sedang studi doktor, dan 70 % dari total dosen telah tersertifikasi.

Dari aspek riset dan pengabdian, selain menambah dukungan pendanaan di bidang ini, skema penelitian berbasis akselerasi untuk kenaikan jabatan fungsional dari Lektor Kepala ke Guru Besar, dari Lektor ke Lektor Kepala, dan dari Asisten Ahli ke Lektor, sedang dalam proses peluncuran. Meningkatnya jabatan fungsional ini akan mendorong performa program studi dan akan mendukung akreditasi institusi kelak. Lalu ada skema Program Hilirisasi Produktif untuk jurusan yang akan menghasilkan produk khusus berbasis keilmuan. Setelah seleksi panjang, kita akan mendanai pembuatan kolam ikan produksi, pembibitan produksi, asap cair, kemasan eco-plastic, dan air minum isi ulang ‘Aik UBB’, yang semuanya akan berorientasi profit. Tentu saja program ini diharapkan dapat menjadi hilir dari keilmuan yang dikembangkan dan akan sejalan dengan semangat senyawa dunia industri-kampus. Sementara itu, untuk dukungan publikasi, selain penataan jurnal yang telah ada, juga segera disediakan skema bantuan insentif publikasi. Di UBB pun telah ada konferensi internasional ICOGEE terindeks Scopus yang diprakarsai Fakultas Teknik, menyusul rencananya BEC Fakultas Ekonomi. Untuk menunjang pembelajaran, pada tahun 2020 UBB telah pula mendanai buku-buku terbitan UBB Press disertai pembiayaan hak cipta dan secara rutin hal ini akan diteruskan sehingga dosen dan mahasiswa mulai tidak kesulitan mengakses buku ajar dan buku referensi. Untuk menjamin sofistikasi tulisan, UBB juga telah berlangganan aplikasi Turnitin untuk 2 tahun ini yang akan berguna untuk mengecek kemiripan dan mencegah plagiarisme karya dosen dan mahasiswa.

Di bidang kemahasiswaan, selain menambah 1 unit gedung pada tahun 2020 dan rencana penambahan 1 unit lagi untuk sekretariat dan gudang perlengkapan untuk 2021 ini, peningkatan dana kegiatan dan penguatan layanan kemahasiswaan juga dilakukan. Beberapa program baru misalnya adalah workshop khusus calon wisudawan, workshop kemahasiswaan, juga dilakukan asesmen profil mahasiswa, dan penguatan tim tracer study dan pembinaan karir. Kita memperkuat tim career center dan akan meningkatkan pola pendidikan karakter berdasarkan rekomendasi psikolog dari hasil asesmen. Secara kelembagaan, revisi peraturan kemahasiswaan telah dimoderasi bersama-sama dengan tim yang melibatkan perwakilan DPM/BEM dan fakultas pada penghujung tahun 2020. Mulai tahun 2021, UBB juga telah menetapkan target khusus indikator capaian di bidang kemahasiswaan dalam Renstra 2020-2024 yang dilekatkan pada Biro Akademik dan Kemahasiswaan, sebagiannya di fakultas. Target itu diantaranya adalah peningkatan rata-rata masa studi mahasiswa, rata-rata IPK, prestasi nasional dan internasional, serta pembinaan di bidang kewirausahaan. Bagi kampus, target di bidang Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) juga menjadi gengsi tersendiri, disamping adanya beberapa kompetisi diajang bergengsi yang dimenangkan oleh mahasiswa, di 2020 misalnya adalah Gold Medal mahasiswa FT di kompetisi internasional 2020 Japan Design, Idea & Invention Expo di Jepang.

Secara kelembagaan, kita sedang menginisasi beberapa program studi baru karena kita menyadari student body yang besar akan mendorong membesarnya kampus. Dengan prodi yang ada saat ini, kita memang telah mengoptimalkan daya tampung calon mahasiswa baru dari 1.200-an pada tahun 2020 menjadi 1.467 pada tahun 2021, namun prodi baru kiranya akan menjadi salah satu alternatif. 3 Prodi Magister dan 8 Prodi S1 sedang disiapkan. Karenanya rekrutmen dosen untuk program studi baru mulai dilaksanakan secara bertahap menyusul rasio keketatan mahasiswa UBB yang semakin baik, yakni 1 : 6 pada tahun 2021 ini dengan sebaran mahasiswa berasal dari 20 provinsi.

Dari sisi fasilitas fisik, ada 3 gedung berstatus Konstruksi Dalam Pekerjaan (KDP) yang menjadi warisan dari tahun-tahun sebelumnya. Alhamdulillah, 1 KDP berupa gerbang telah diselesaikan, menyusul lantai basement rektorat yang telah rampung dan akan ditempati LPPM, LP3M, dan UPT Bahasa. 2 KDP, penyelesaian Rektorat 3 lantai ke atas dan Auditorium, adalah pekerjaan panjang finishing yang telah dimulai. Audit pisah batas dan uji struktur kelayakan bekerjasama dengan BPKP, Balai PPW-PUPR, dan Unnes telah dilakukan dan saat ini dalam proses review design sebagai tahap akhir. Jika tak ada aral melintang, Auditorium akan bertahap mulai dikerjakan, disusul kemudian rektorat, dengan rencana dukungan pendanaan dari PUPR. Kita juga bersyukur karena Jalan Jembatan Kerabut telah dibuka dan kita akan segera meresponnya dengan membangun Gerbang Sayap Kerabut. CCTV yang dapat dipantau secara online juga telah dipasang berbagai sudut kampus. Beberapa fasilitas fisik lainnya yang sedang disiapkan adalah pembangunan UBB Medical Care (U-Care) dan Internet Corner. Meskipun demikian, transformasi ke hybrid activities kiranya akan didorong dengan penyediaan fasilitas yang kelak akan lebih berbasis co-working space dan berbasis digitalisasi sehingga ruang-ruang fisik barangkali mulai dipetakan pengadaannya secara selektif.

Pada akhirnya, perkembangan disrupsi saat ini memang harus direspon cepat dengan cara-cara unik. Prof Pratikno, Mensesneg RI, dalam orasinya pada Lustrum ke-III UBB 12 April 2021 menggunakan istilah smart shortcut : cerdik mencari keunggulan dan keunikan, serta memanfaatkan era perubahan untuk naik kelas. Kita semua, sivitas akademika UBB, perlu sama-sama menginterpretasikan praksis gagasan tersebut agar peluang emas di era yang berubah karena disrupsi dan pandemi ini dapat kita tangkap untuk melakukan smart shortcut. Kita sadar kita muda dan baru, tapi kata Pak Tik ‘jangan remehkan yang muda dan baru’, kira-kira kita akan berusaha demikian, semoga saja! Yuk, berhenti berdiri di titik nol, mari bersinergi, membangun di era disrupsi, berkarya di masa pandemi !